- Rekonstruksi sejarah
- Sejarah sebagai sistem
Telah dijelaskan di atas bahwa sejarah sebagai
konstruk selalu merupakan suatu
kesatuan yang koheren. Koherensi itu.
Mengandung tuntutan bahwa unsur-unsur
(fakta-fakta) terkumpul tetapi lepas
satu dari yang lain, yaitu adanya hubungan yang saling
mengaitkan'unsur-unsur itu, sehing ga pada
dasarnya ada saling ketergantungan (interdepeidensi), terutama fungsi-fungsinya. Kesemuanya berfungsi untuk
mendukung fungsi keseluruhannya. Jelaskan bahwa
di sini kita menghadapi suatu sistem.
di sini tidak dipersoalan secara mendalam
apakah sejarah sebagai kesatuan senantiasa merupakan suatu sistem. Konsep sistem dan pendekatan sistem paling sedikit
memudahkan proses
analisis dan sintesis, terutama dalam menunjukkan saling hubungan antara
unsur-unsur atau dimensi-dimensi, yaitu bagaimana saling pengaruh mempengaruhi antara faktor
ekonomi, sosial, politik, kulture. Kita senantiasa diingatkan bahwa ada
sematam interdependensi antara fakta-fakta itu, sehingga kita tidak terjebak dalam suatu pendekatan
deterministik,
yaitu yang membuat satu faktor mutlak peranannya. Sebaliknya, perlu diperhatikan
pula bahwa pendekatan pula bahwa
pendekatansistem tidak dengan sendirinya
cocok.dengan realitas
atau fakta-fakta
historis. Adalah menyesatkan apabila konsep sistem secara mutlak dipaksakan
kepada kejadian sejarah.
Pendeknya, konsep
sistem hanya dipakai sebagai alat analisis
dan sintesis.
- Sejarah sebagai unit
Pengertian
sistem lazimnya diasosiasikan dengan konsep unit. Rupanya denotasi unit lebih
longgar, tidak
terlalu ketat hubungan antar unsur-unsur. Implikisi logis dari konsep konstruk ialah adanya
suatu struktur yang secara inheren mencakup konsep unit. Setiap strukur terdiri
atas
Unsur-unsur
yang tersusun berdasarkan prinsip atau fungsi tertentu. Di sini
prinsip itu secara logis menciptakan kesatuan atau unit.
Karya
perintis historiografi, herodotus dan tucydides, mencakup perang sebagai
unitnya. Gejala
sejarah yang universal ini
secara jelas mempunyai titik awal dan akhirnya; jadi, ruang lingkup
waktunya jelas, begitu pula lingkup spasialnya, yaitu arena atau front
perangnya. Perang sebagai
Proses
mempunyai "usia" dengan pasang-surutnya aktivitas serta
pengaruh faktor-faktor baik militer maupun ekstra militer beserta
saling pengaruhnya. Kemudian muncullah unit politik, ialah sejarah negara atau
kerajaan, khususnya imperium
romanum. Lingkup temporal
dan spasial dapat
ditentukan secara jelas. Biasanya yang diutarakan terutama proses politik. Menyusullah dalam
historiografi romawi, biografi sebagai unit. Di sini hidup seorang tokoh yang
secara jelas mewujudkan
suatu unit. Hidup seseorang diawali dengan kelahirannya dan
diakhiiri dengan kematiannya. Semua kejadian selama hidupnya itu berkisar
sekitar sifat dan watak kepribadian
tokoh yang dikisahkan.
- Sejarah nasianal sebagai unit
Dengan
perkembangan politik yang semakin memantapkan eksistensi negara
nasional berkembanglah secara pesat sejarah nasional yang
mengisahkan kehidupan negara nasional itu. Yang semakiin meningkatkan bentuk
penulisan ini
adalah kenyataan bahwa dokumen-dokurnen mulai tersusun dan tersimpan dalam
arsip-arsip negara masing-masing. Hal
ini mendorong sejarawan mengikuti batasan unit politik. Di samping
itu, kehidupan nasional secara totalitas tumbuh sebagai
suatukesatuan, mencakup
jaringan hubungan ekonomis,
sosial, potitis kultural, din lain sebagainya. Dengan demikian,
sangatlah wajar apabila sejarah nasional digarap sebagai unit.
Perlu ditambahkan bahwa unit di
sini tidak mencakup pengertian sebagai sistem tertutup (close system). Komunikasi dan
interaksi dengan negara-negara lainnya, aliran
pengaruh eksogen selama berabad-abad berlangsung terus.
Hubungan perdagangan, pelayaran, masuknya
agama, serta pengaruh kebudayaan tidak memungkinkan lagi
melihat negara sebagai unit politik
Yang
berdiri sendiri. Banyak
gejala dan peristiwa sejarah dapat
diterangkan tanpa memperhitungkan pengaruh dari luar. Dalam sajarah modern memang
interaki antara faktor eksogen
dan faktor endogen secari terus-menerus terjadi, namun negara nasional
sebagai kerangka ruang tetap amat relevan.
Unit-unit di bawah unit nasional ialah unit daerah dan unit lokal.
Dipandang dari prinsip nasiosentris sejarah daerah merupakan bagian
atau subunit, namun sebenarnya secara historis unit daerah
seringkali ada lebih dulu dari pada unit nasional,
tidak lain karena
kehidupan tradisional lebih
terbatas pada daerah, umpamanya aceh, sumatra barat, jambi, palembang sebagai daerah iapat
dilacak kembali kepada unit politik, ialah
karajaan-kerajaan. Seringkaii interaksi antara kerajaan sangat
intensif, sehingga
secara bersama-sama menjadi suatu kompleks historis. Contohnya
ialah sulawesi selatan yang mencakup
tallo, goa, makassar, wajo, bonggaya,
atau kompleks historis, selat malaka mencakup malaka,
johor, jambi, dan riau. Kompleks
historis sebagai unit ternyata tidak ketat, ada pasang-surutnya sejajar
dengan proses interaksi historis yang
terjadi di dalamnya. Frakta yang acapkali menembus unit sejarah ialah aliran-aliran
besar yangmenyilang seperti
perdagangan,ekspansi agama,penetrasi
unsur-unsur modernisasi.
- Pendekatan sistem dan perspektif historis
Umum
mengetahui bahwa konsep sistern banyak dipakai dalam ilmu sosial yang mempunyai perspektif
sinkronis terhadap
suatu gejala, maka ada kecenderungan untuk memahaminya sebagai sistem.
Pendekatan sistem memusatkan perhatian
pada kesatuan yang mencakup unsur-unsur serta hubungan
pengaruh-mernpengaruhi itu. Ditangkapnya proses interaksi antara unsur
terrjadi suatu waktu dan dalam situasi
tertentu; jadi, dapat dikiaskan sebagai "penampang lintang" suatu
batang pohon. Dapat dikatakan bahwa di sini ada pengambilan situasi menurut momentum tertentu. Maka dengan sendirinya
orang mengabaikan kenyataan bahwa
situasi dewasa ini atau pada saat dikaji itu tidak lain merupakan hasil
perkembangannya di masa lampau. Pelacakan bagaimana teriadinya
atau jalannya perkembangan di masa lampau
dilakukan dengan pendekatan diakronis, atau mirip dengan "penam.pang
bujur" pada suatu pohon. Di
sini kita menjumpai esensi dari perspektif historis, yaitu pandangan
membujur mengikuti garis perkembangan sepanjang waktu tertentu. Dengan
demikian, akan tampak jelas
bahwa situasi sekarang adalah hasil atau produk dari pertumbuhan atau
perkembangan sejarah. Contoh: mengapa suatu kota yang memperlihatkan situasi
tertentu tidak dapat diterangkan
secara tuntas dengan pendekatan sistem, tetapi harus dilacak
perkembangannya; jadi, memerlukan pendekatan (penpektif)
diakronis.
Adakah
kemungkinan mengkombinasikan dua pendekatan yang sinkronis dan yang diakronis?
Apabila
objek studi sejarah dituiukan pada suahr masyarakat atau lembaga sosial,
maka untuk melacak perkembangan historis
strukturnya mau tak mau diperlukan kedua pendekatan itu. Contoh:
bagaimana struktur feodal masyarakat abad pertengahan di eropa kemudian
berubah menjadi
masyarakat abad ke-19, dengan kelas menengah atau kaum borjuis yang mempunyai
kedudukan penting?
Di
sini seiqrah struktural dengan pendekatan rangkap dapat melakukan analisis
dan mengungkapkan perubahan sosialnya.
Perlu diakui bahwa memang belum
banyak karyu yan
menerapkan metode itu. Lazimnya karya-karya itu dikategorikan sebagai historical
sociology.
- Apakah sejarah ltu?
- Defnisi
Manusia
sebagai homo sapiens memiliki potensi untuk me nyimpan pengalamannya di dalam
memorinya (ingatan), dan
sewaktu-waktu diperlukan dapat diproduksi'(keluarkan)
baik dalam angan-angannya maupun dalam bentuk cerita. Sejak umat manusia mempunyai kemampean berbahasa .banyak karangan-karangan tentang pengalamannya dituangkan dalam bahasa
untuk dapart
ketahui pihak
lain dan khususnya
generasi muda. Tradisi risan adaiah media utama untuk meneruskan
pengalaman individu dan kolektif dan dengan
demikian, terjamin kontinuitas hidup di satu pihak
dan di pihak lain proses pembudayaan
dan pendidikan
memungkinkan akumulasi
perbendaharaan kebudayaan. Sudah barang tentu
tradisi lisan menciptakan
pesan-pesan yang
"mengambang", tidak lain karena
transmisi lisan memungkinkan perubahan-perubahan
dalam proses penerusan itu.
Baru setelah peradaban
suatu bangsa mengenal tulisan, tradisi tersebut dapat "dibakukan', menjadi mantap ,"hing ga tidak terlalu mudah
nengalami perubahan. Pentinya"penemuan"
tulisan, itu diakui sebagi peristiwa maha penting dalam perrumbuhan. Suatu peradaban sehingga titik awal
sejarahnya dan
peradaban yang sebenarnya.
Apbila pelbagai pola kelakuan dalam peradaban dibakukan dalam bentuk lembaga
dan tradisi, maka ungkapan-ungkapan
tentang tentang pengalaman individu dan kelompok di masa lampau dilembagkan sebagai penulisan sejarah. Tradisi lembaga-lembaga tradisional, dan sejarah berfungsi
untuk menyimpan dan meneruskan pengalaman kolektif dari satu
generasi ke generasi
berikutnya dan dengan demikian, melaksanakanproses pembudayaan, sosialisasi, atau
pen didikan secara kontinu. Proses itu berfungsi untuk memper tahankan
eksistensi kelompok
di satu-pihak dan di pihak
lain meningkatkan perkembangan
kebudayaan dengan mengakumulasi
pengalarnan koteltif.
Dari
penielasan di atas maka sejarah
dapat didefinisikan sepagai
perbagai bentuk
penggambaran pengalaman kolektif dimasa
lampau.setiap pengungkapannya djapat dipandang sebagai suatu
aktualisasi atau pementasan
pengalaman masa lampau. Menceritakan
suatu kejadian ialah cara
membuat hadir
kembali (dalam kesadaran) peristiwa tersebut dengan pengungkapan verbal.
Dewasa ini banyak media modern yang
tersedia untuk mengkomunikasikan pelbagai pengalaman itu, antara
lain foto dan film. Bagi
kehidupan kelompok, pengalaman kolektif merupakan landasan untuk
menentukan identitasnya. Seperti di dalam
masyarakat tradisional identitas seseorang dikembalikan ke asal-usulnya atau
keluarga besarnya, maka
suatu kelompok
atau bangsa juga cenderung mengembalikan identitasnya kepada
pengalaman bersama di masa lampau pada
umumnya, dan kepada asal-mularrya khususnya. Sehubungan dengan itu, dalam
historiografi .masyarakat tradisional asal-mula dilacak ke sejarah dini,
bahkan ke masa mitologis.
Sejarah dimulai pada masa makhluk-makhluk supernatural atau dewa-dewa dan setengah dewa yang menghuni bumi dan sangat berpengaruh pada kehidupan manusia. Kalau dalam satu kisah dewa-dewa itu dimuat dalam cerita epos, dalam penulisan sejarah sering dicakup sebagai masa awal bangsa atau kelompok. Unsur mitologis itu merupakan unsur pokok dalam kebanyakan penulisan sejarah. Di samping itu. Sejarah suatu bangsa pida masa kuno mencakup unsur-unsur yang belum dapat disebut sejarah dalam arti yang sebenarnya, masih berupa legenda atau saga, cerita yang memuat fakta-fakta sejarah tercampur derrgan banyak kejadian yang tidak pernah terjadi. Demikian pula halnya dengan folklore atau cerita rakyat. Pencakupan mitos di dalam sejarah dapdt dipahami dengan mengingat bahwa pemikiran sejarah sangat erat hubungannya dengan pandangarr hidup atau pandangan dunia. Pada masa itu orang beranggapan bahwa manusia hidup di dalam alam semesta (kosmos), dalam kesatuan dengan.seluruh isi dan penghuninya, baik alamiah maupun rohaniah, pandangan kosmis-magis dengan sendirinya tercermin dalam pengungkapan pengalamin kelompok yang tidak terpisah dari dunia dewa-dewa.
Mitologi
itu berdasarkan kepercayaan, maka bagi bangsa-bangsa. Kuno yang berpandangan
hidup seperti
diuraikan atas mitos-mitos juga merupakan . Realitas yang tidak ber beda dengan history
(sejarah). Asar kata hisiory ialah historia (bahasa
yunani), artinya penelitian; maka dalam
belada
Masih.
Terpakai istitah
natuurtijke (alam) historie(sejarah)
ialah ilmu alam, khususnya biologi.
Semula
cerita sejarah yang masih tercampur mitos ba nyak memakai bahasa lirik
"(puisi), baru kemudianlebih berupa
logografi, penuturan dengan prosa dan berdasarkan pikiran dan pengertian
logis. Kita menyaksikan pula
penggeseran dalam historiografi yunani dari bentuk bahasa lisan ke bahasa tulisan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar